Kamis, 24 Maret 2016

Di Balik Janji Indah



Semenjak prang dunia II 1943-1945. Jepang melancarkan serangan kilat melalui udara ke negara-negara di Asia Tenggara yang pada saat itu adalah jajahan blok barat. Pada 1943 juga jepang menduduki pulau jawa. Setelah insiden ini blok barat merasa tersinggung, dan berbalik menyerang jepang. Serangan balasan yang dilakukan menyebabkan komunikasi para serdadu jepang antar pula sangat sulit untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi. Itu juga menyebabkan para serdadu jepang sangat sulit mendatangkan wanita penghibur, dari cina, singapura, dan dari negara mereka sendiri. Insiden itulah yang menjadi faktor pendorong. Janji Indah yang dikatakan Pram, dalam novelnya.
Kesulitan mendapatkan wanita penghibur dari luar pulau jawa, memaksa jepang memainkan propaganda di mana mereka menjanjikan akan memberikan beasiswa ke Tokyo kepada gadis jawa. Dan untuk melancarkan propaganda ini jepang memperalat orang-orang yang diberikan jabatan di tingkatan kecamatan dan kelurahan. Untuk terlebih dahulu menyerahkan anaknya untuk disekolahkan ke Tokyo, dan langsung diikuti oleh seluruh masyarakat di daerahnya. Setelah mulusnya propaganda yang dimainkan para serdadu jepang, dimulailah penjemputan para gadis di rumah mereka masing-masing, dengan trik yang didesain sebaik mungkin, sehingga meninggalkan kesan yang baik kepada orangtua para gadis karena anaknya dijemput dengan sopan.
Perpisahan dramatis pun terjadi antara anak dan orangtua, air mata yang menghiasi perpisahan. Perasahan haru, cemas dan bangga karena anaknya berkorban untuk kemajuan keluarga dan terutama untuk negara, bercampur aduk seperti halnya kopi dan gula yang menyatu dalam cangkir. Setelah selesai melakukan penjemputan para wanita ditampung ke tempat penampungan yang sudah disediakan, kira-kira ada empat tempat yang sudah disediakan untuk menampung para gadis. Tempat itu dipagari dengan bambu yang tinggi dan rapat sehingga tidak bias kelihatan dari luar, kegiatan yang sedang berlangsung di dalam. Selama mereka berada di tempat penampungan yang kira-kira tiga minggu lamanya mereka diperlakukan dengan baik oleh para serdadu jepang mereka diberlakukan layaknya para gadis pelajar pada umumnya.
Tiba sudah pelayaran menuju Tokyo seperti yang dijanjikan para serdadu jepang, ada empat kapal yang menampung para gadis untuk berlayar ke Tokyo, dan satu di antara keempat kapal tersebut nahkodanya adalah penduduk jawa Sukarno Matrodiwirjo. Ya saat itu dia baru menyelesaikan sekolah pelayarannya di Makassar. Melihat para gadis yang memenuhi kapal, Sukarno Matrodiwirjo sangat kebingungan dan bertanya dalam dirinya sendiri. Ada apa ini? Kenapa para gadis ini berada di sini? Mau dibawa ke mana para gadis ini? karena larangan bicara dengan para gadis, pertanyaan-pertanyaan itu terus bertengkar di kepalanya. Pluit kapal terdengar seperti amukan macan, ini menandakan kapal akan segera berlayar, di sinilah Janji Indah, berubah menjadi malapetaka bagi para gadis, nafsu birahi para serdadu yang liar seperti binatang tidak tertahankan lagi, mereka mulai membabi buta memperk*sa para gadis, di tengah gelapnya malam dan gemuruh obak malam itu. Berpadu dengan tangisan kesakitan para gadis.
Para gadis itu diperk*sa secara bergantian dan bahkan satu gadis dalam semalam harus dipaksa melayani delapan serdadu bahkan bisa lebih. Di ruangan nahkoda Sukarno Matrodiwirjo hanya bisa berdiam diri sambil meneteskan air mata. Melihat kebiyadaban para serdadu jepang, dari ruangan nahkoda dia melihat tingkah para serdadu bagaikan monster yang sedang mengamuk dan menghancurkan dunia. Ya mereka para serdadu memang monster bahkan lebih menakutkan dari monster dalam film kartun mana pun. Selama beberapa hari pelayaran ternyata kapal tersebut merubah arah bukan ke Tokyo malah, dua kapal menuju singapur, dan dua kapal lagi menuju pulau plores. Ketika kapal berhenti dan menurukan para gadis bukan berarti penderitaan berakhir, tapi malah baru dimulai penderitaan para gadis, karena mereka harus melayani para serdadu yang ada di singapur dan pulau plores.
Tiba kabar di mana jepang telah kalah dan Indonesia telah merdeka pada tahun 1945. Jadi kira-kira ada sekitaran satu tahun lebih para gadis jawa menjadi budak s*x para serdadu jepang. Setelah mendengar bahwa Indonesia telah merdeka, para gadis ditinggal begitu saja di singapura dan plores tanpa uang sepeser pun bahkan pakaian untuk digunakan, mereka sedikit bisa bernapas bebas karena para serdadu sudah pergi meninggalkan mereka selesai sudah penderitaan menjadi budak s*x. Tapi bukan berarti bahwa penderitaan mereka telah berakhir. Ya kekerasan se*sual memang tela berakhir tapi penderitaan selanjutnya untuk bertahan hidup tanpa sepeser pun uang untuk makan, membeli pakaian, dan ongkos untuk kembali ke pangkuan orangtua, itu lebih menyedihkan daripada penderitaan selama menjadi budak s*x. Dan masih banyak lagi penderitaan yang mereka harus hadapi di singapura dan pulau plores, dan yang bisa membebaskan mereka dari penderitaan hanyalah maut.
Kira-kira itu sedikit cerita tentang kejahatan perang dan penderitaan para gadis, aku tidak menuliskan seluruh kejadian yang terjadi di masa itu, melainkan hanya sebagian kecil dari seluruh rentetan cerita yang ditulis Pram. Tulisan di atas adalah surat kecil dariku untuk para gadis di nusantara, untuk mengetahui kejahatan perang yang didiami negara kita. Yang perlu diketahui para gadis yang menjadi budak se*x di zaman itu. Tidak pernah dicari oleh negara, melainkan negara menganggap mereka telah mati atau sudah hilang, kesengajaan inilah yang membuatku terpanggil untuk membuat tulisan ini. Sebagai kritik terhadap negara dan sebagai berita untuk para gadis di masa sekarang. Tulisan ini juga sebagai bentuk penghormatanku terhadap para korban, yang mempunyai misi mulia yaitu belajar ke Tokyo dan mengabdikan diri ke negara setela kembali ke tanah air mereka, tapi takdir berkata lain, semoga para korban yang masih hidup akan selalu dalam lindungan sang pencipta. Dan kepada korban yang telah meninggalkan semoga mendapat tempat yang layak di sisi sang pencipta. Amin.. ya robbalalamin.
Cerpen Karangan: Amin Mokoagow
Facebook: amin_mokoagow[-at-]ymail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar